\(ˆ ▾ ˆ)/ Welcome To My World \(ˆ ▾ ˆ)/ (ʃƪ˘˘ﻬ)~♥

Kamis, 02 Mei 2013

Review 5 - Marxisme

Yeah !!! review 5 pun kelaar.. setelah melalui perjuangan yang cukup melelahkan *apasih
Review kali ini ngebahas Marxisme, yang mana aku kurang paham apa intinya :( maka dari itu aku nyari bahan bacaan lain biar bisa ngebantu buat review. Okesipp....


HI 2012
REVIEW 5

MARXISM

            Pada pertengahan tahun 1840, Marx dan Engels menulis bahwa globalisasi kapitalis benar-benar meruntuhkan pondasi dari sistem internasional negara-negara. Akan tetapi banyak teoritis tradisional dari hubungan internasional menunjuk pada kegagalan dari Marxisme sebagai catatan dari sejarah dunia. Marxisme meremehkan pentingnya nasionalisme, negara dan perang, dan arti penting keseimbangan kekuasaan, hukum internasional dan diplomasi untuk struktur politik dunia. Keruntuhan Uni Soviet dan menangnya kapitalisme diatas sosialisme menandai matinya Marxisme sebagai teori sosial dan kebiasaan politik. Sebuah biografi dari Marx yang muncul pada akhir tahun 1990 berpendapat bahwa mengikuti runtuhnya Uni Soviet, analisisnya tentang bagaimana kapitalisme meruntuhkan Tembok Cina dan menyatukan umat manusia akhirnya tiba.
            Marxisme melihat kemenangan kapitalisme tidak akan bertahan lama dan hukumnya yang tidak dapat ditawar-tawar akan mengarah menuju kehancurannya dan akan diganti oleh Komunisme.Kaum Marxisme yang lain seperti Lenin berpendapat berbeda. Lenin percaya bahwa kapitalisme menyebabkan perpecahan nasional seperti belum pernah terjadi sebelumnya kemajuan di globalisasi, tapi itu bukan berarti Marxisme menyediakan penjelasan terbaik tentang bagaimana globalisasi dan perpecahan telah dibentangkan di saat modern dan khususnya sejak runtuhnya Uni Soviet. Marxisme menganalisa globalisasi kapitalis dan perpecahan meminta Waltz dan Wight untuk mempertimbangkan kembali pendapat mereka bahwa Marxisme mungkin tidak dihormati sebagai kontribusi untuk studi politik internasional atau pendekatan yang kurang cerdas di lapangan.
            Kekuatan masyarakat diatas alam membuat manusia menjadi terkurung didalam bagian buruh sosial internasional, mengarahkan ke paksaan pasar dan eksploitasi oleh kondisi baru dari produksi perusahaan yang merubah pekerja menjadi bagian dari mesin. Marx percaya bahwa nasionalisme tidak mempunyai tempat di hati dan pikiran dari kebanyakan kaum murba yang  diperlakukan untuk proyek politik internasional. Marx juga percaya bahwa sejarah paksaan produksi dan hubungan dari produksi telah diabaikan oleh pergerakan Hegelian. Marx juga kepercayaan agama bukanlah kesalahan para cendekiawan yang harus di benarkan oleh analisa filosofis tapi sebuah ekspresi dari rasa frustasi dan aspirasi orang-orang yang berjuang dengan kondisi sehari-hari.
            Masyarakat proletar atau masyarakat buruh yang selalu ditindas oleh kaum burjois yang mana mereka adalah masyarakat pemilik modal yang berhak mendapatkan kekuasaan. Dari pandangannya tentang kemasyarakatan, Marx melahirkan apa yang dimaksud dengan teori kelas. Dengan teori ini, Marx melihat bahwa kelas-kelas pengusaha harus dihilangkan karena selalu menindas kaum buruh. Maka dari itu, tidak ada cara lain untuk merebut kekuasaan kecuali dengan revolusi dimana semua kepemilikan harus dikembalikan ke negara. Pemikiran inilah yang akhirnya menyebabkan revolusi Bolsyewik (1917) di Uni Soviet dan Cina (1949). Pemikiran Marx akan teori kelas membagi dunia menjadi dua paham yaitu teori kelas Marx dan kapitalis. Kapitalis yang diwakili oleh Amerika Serikat dan Marxisme yang diwakili oleh Uni Soviet membuat dua negara ini berperang dingin dalam hal ideologi sejak Perang Dunia II sampai tahun 1989, yakni tahun kebangkitan negara-negara Marxis Eropa Timur.
            Revolusi politik merupakan agen utama dari sejarah perkembangan yang mana inovasi teknologi telah menjadi pendorong kekuatan dibelakang perubahan sosial. Fakta bahwa Marx berpikir bahwa sosialisme akan mengglobal melebihi fenomena orang-orang Eropa patut dikomentari lebih lanjut. Ada satu alasan mengapa Marx mempunyai sesuatu untuk dikatakan mengenai hubungan antara negara-negara, tapi fokus pada globalisasi kapitalis untuk berjuang menyadari persamaan hak dan kebebasan. Marx dan Engels tahu pentingnya geopolitik di sejarah manusia, meskipun mereka percaya bahwa motivasi ekonomi adlaah alasan utama untuk perkembangan perdagangan dunia dan pasar global.
            Austro-Marxis seperti Karl Renner dan Otto Bauer berpendapat bahwa Marx dan Engels meremehkan dampak dari perbedaan budaya dalam sejarah manusia. Austro-Marxis bereaksi ke kekuatan kembar dari globalisasi dan perpecahan dimana manusia akan menikmati solidaritas dan perbedaan budaya. Hal ini bertubrukan dengan ide sosialis yang dikembangkan di Soviet dibawah Lenin dan Stalin tapi mereka mengindikasi satu cara membangun  peninggalan Marxis dan pembangunan kembali sejarah materialisme.
            Teori-teori imperialisme membagikan paham Marx bahwa kapitalisme merupakan kekuatan yang terus mau karena akan membawa perkembagan  insustri dan dasar dari kebutuhan materiil semua orang.  Fakta bahwa Marxisme merupakan doktrin barat dengan akarnya yang berada di Eropa merupakan poin penting disini. Banyak pemerintah non barat dan pergerakan non barat menolak model barat dalam ekonomi dan perkembangan politik dan banyak menentang apa yang mereka lihat sebagai orang asing dan kemerosotan nilai-nilai barat.
            Meskipun mempunyai kelemahan, Marxisme berkontribusi dalam teori hubungan internasional paling tidak empat aspek. Yang pertama, sejarah materialisme dengan tekanannya pada produksi, hubungan milik dan kelas adalah hal yang penting dalam perebutan kekuasaan dalam politik dunia. Kedua globalisasi kapitalis yang telah lama dibahas Marxisme. Yang ketiga penyebaran kapitalisme di dunia adalah latar belakang pembangunan masyarakat modern dan organisasi dari hubungan internasionalnya. Keempat, penjelasan mengenai dunia sosial tidak pernah objektif dan tanpa salah seperti terlihat.
Daftar Pustaka
Makalah “Hukum Sebagai Ideologi Kelas (Studi Analisis atas Pemikiran Marx dan Engels VS Islam)” Oleh : Elan Sumarna

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar